Kategori Penyandang Tunarungu, Jenis-jenis, serta Karakteristiknya

Kategori Penyandang Tunarungu, Jenis-jenis, serta Karakteristiknya

Gurubaca.com. Sebutan tunarungu berasal dari kata “tuna” yang artinya rusak dan “rungu” yang artinya pendengaran. Penyandang tunarungu memiliki arti, yaitu mereka yang tidak dapat memfungsikan indra pendengarannya dengan baik.

Penyandang tunarungu merupakan suatu kondisi yang mana seseorang kehilangan pendengaran baik sebagian maupun seluruhnya yang menyebabkan indra pendengarannya tidak bisa berfungsi dengan baik seperti orang pada umumnya.

Seseorang yang memiliki kekurangan dalam indra pendengaran memiliki hambatan dalam pendengaran sehingga memerlukan bimbingan dan pendidikan yang khusus.

Tunarungu membuat seseorang memiliki hambatan dalam berkomunikasi, sedangkan komunikasi merupakan hal yang selalu orang lakukan dan merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kenyataannya, anak tuna rungu tidak dapat mendengar yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk memahami bahasa yang diucapkan oleh orang lain. Selain itu, seseorang mereka juga tidak dapat mengerti bahasa secara oral atau lisan.

Kategori Tunarungu

Kategori Penyandang Tunarungu, Jenis-jenis serta Karakteristiknya

Berikut ini beberapa kategori dari tunarungu pada anak berkebutuhan khusus.

1. Berdasarkan Waktu Terjadinya

a. Ketunarunguan bawaan

Ketunarunguan ini terjadi ketika lahir, dimana anak sudah menyandang/mengalami tunarungu serta indra pendengarannya sudah tidak berfungsi lagi.

b. Ketunarunguan setelah lahir

Ketunarunguan setelah lahir artinya anak mengalami tunarungu setelah lahir yang bisa berasal dari kecelakaan atau suatu penyakit tertentu.

2. Berdasarkan tempat kerusakan

a. Kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah

Kerusakan telinga bagian luar dan tengah bisa menghambat aliran suara atau bunyi yang akan masuk ke dalam telinga yang disebut Tuli Konduktif.

b. Kerusakan pada telinga bagian dalam

Kerusakan pada telinga bagian dalam dapat mengakibatkan seseorang tidak dapat mendengar suara atau bunyi yang disebut Tuli Sensoris.

3. Berdasarkan taraf penguasaan bahasa

a. Tuli pra bahasa (prelingually deaf)

Tuli pra bahasa terjadi pada mereka yang menjadi tuli sebelum menguasai suatu bahasa (usia 1,6 tahun). Atinya, anak menyamakan tanda atau sinyal tertentu seperti menunjuk, mengamati, meraih dan sebagainya, tetapi belum membentuk system lambung.

b. Tuli purna bahasa (post lingually deaf)’

Tuli ini terjadi pada mereka yang menjadi tuli setelah menguasai tata bahasa, yaitu telah menerapkan dan dapat memahami sistem lambang yang berlaku di lingkungan mereka maupun di lingkungan tertentu.

Jenis-jenis Tunarungu

Berikut beberapa jenis tunarungu, yaitu sebagai berikut.

1. Kurang dengar, tetapi masih bisa menggunakan dan menerapkan sebagai sarana atau modalitas utama dalam menyimak suara cakapan seseorang dan mengembangkan kemampuan bicara.

2. Tuli (Deaf), yang mana pendengaran mereka sudah tidak dapat digunakan sebagai sarana utama untuk mengembangkan kemampuan bicara, tetapi masih dapat difungsikan sebagai suplemen pada penglihatan dan perabaan.

3. Tuli total (Totally Deaf), dimana mereka sudah sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam mendengar sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimak, mempersepsi, dan mengembangkan bicara.

Karakteristik Tunarungu

Berikut ini beberapa karakteristik anak yang mengalami tunarungu, yaitu sebagai berikut.

1. Karakteristik fisik

Bentuk badan yang sedikit membungkuk, cara berjalannya yang kaku, gerakan kaki dan tangannya yang cepat, pernafasannya pendek atau agak terganggu serta gerakan mata yang cepat.

2. Karakteristik akademis

Anak tunarungu memiliki kemampuan akademik yang tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Namun, secara fungsional anak tunarungu di bawah anak normal karena memiliki kesulitan dalam memahami bahasa karena terbatasnya pendengaran.

3. Karakteristik bahasa

Di dalam hal ini, biasanya anak tunarungu sulit dalam mengartikan ungkapan-ungkapan bahasa yang mengandung makna kiasan, sulit   mengartikan kata-kata abstrak, serta kurang menguasai irama, gaya bahasa, dan minimnya kosa kata.

4. Karakter emosi dan sosial

Individu penyandang tunarungu mengalami kestabilan emosi yaitu seperti rendah diri, mudah marah, mudah tersinggung, dan lebih sensitif.

Pada pergaulan sosial, anak penyandang tunarungu cenderung memisahkan diri terutama dengan anak normal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan untuk melakukan komunikasi secara lisan.

Demikian kategori tunarungu anak berkebutuhan khusus, jenis-jenis serta karakteristiknya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan